Peraturan Masa Orientasi siswa 2015



Masa Orientasi Siswa (MOS) ata Masa Orientasi sekolah (MOS)
Siswa disuruh membuat kartu nama lengkap dengan gelar atau jabatan cita cita tertinggi mereka , selanjutnya diberikan waktu untuk mengungkapkan cita citanya tersebut dan Menjadi bahan masukan buat sekolah untuk mendukung cita cita para siswa baru tersebut, dan di kliping oleh sekolah dalam buku induk untuk dijadikan motivasi setiap siswa baik tahunana maupun menjelang akhir sekolah mereka
----------------------------------------------------------------------------------------------
Ikut meramaikan tentang MOS yang sekarang sedang berlangsung di berbagai sekolah sebenarnya saya mengidamkan MOS menjadi sebuah momentum pembekalan kepada siswa baru maupun yang sudah senior yang lebih bermanfaat,
Memang tujuan awalnya MOS itu adalah bagaimana siswa baru mengenal dunia baru mereka di lingkungan sekolahnya, baik itu jajaaran pengajarnya, situasi kelasnya,  fasilitas sekolahnya maupun kegiatan yang ada di sekolahnya itu sendiri,
Tapi selama hidup saya saya pernah merasakan MOS yang benar benar mengesankan sampai sekarang ketika masuk ke sekolah tinggi namanya PSU (pelatihan Super unggul)
PSU benar benar memberikan kesan lebih kepada saya pribadi terutama bagaimana saya mempersiapkan diri ketika memasuki dunia pendidikan yang baru, penyajian dan susunan acara dari hari ke hari pun ditata sedemikian rupa sehingga pada saat hari terakhir acara  mencapai anti klimaksnya.
Bahwa saya ingin menjadi apa dan akan menjadi apa setelah lulus sekolah nanti, semua harus ditulis dan dibacakan satu persatu dan diberikan kepada teman terdekat untuk saling memberikan masukan tentang apa yang saya  tulis, begitupula saya mengomentari teman saya tentunya dengan niat memberikan semangat secara jujur, walau hanya bertemu baru 2 atau 3 hari.
Tulisan cita cita tidak hanya menulis, karena dipaparkan sebelumnya bahwa potensi kelemahan dan kelebihan masing masing harus dituliskan di hari hari sebelumnya, dan potensi yang bisa dikembangkan di sekolah seperti apa global outputnya, tidak hanya menjadikan visi menjadi orang yang bermanfaat tapi lebih spesifik.
Mungkin kiranya di sekolah sekolah bisa diterapkan dan sedikit diberikan inovasi dan kreasi terhadap kebiasaan mos yang sudah berlangsung secara turun temurun dari tahun ke tahun,
Misalnya saja , papan nama yang digantungkan di leher para siswa baru diganti dengan kartu nama yang harus mereka desain sendiri , lengkap dengan cita cita tertinggi yang mereka miliki, Misal Nama Wawan  tertulis dibawahnya Pengusaha Exportir batu akik,
Atau Abdul Rochmat dengan titel Owner  Beras Organik PT. Usaha jaya terus, atau mungkin juga misalnya Muhammad lutfi usaha sebagai Direksi pt. minat jaya,
Untuk selnjutnya mereka diberikan kesempatan untuk mengemukakan dan menjelaskan apa yang mereka tulis, agar menjadi motivasi secara terus menerus sampai mereka tua, kalau bisa sekolah mengabadikan tulisannyatersebut bisa dengan foto atau dipajang dibuku induk siswa bahwa mereka (siswa baru) mempunyai cita cita itu, selanjutanya pihak sekolah mengevaluasi terhadap cita cita mereka agar menjadi focus ternyata banyak siswa baru mayoritas pingin jadi pengusaha misalnya, atau ingin jadi engineer, atau ingin jadi ustad, dari situlah sekolah berpijak disamping ada kurikulum juga, minimal dalam muatan lokal bisa masuk.
Begitupula dengan istilah biaya untuk mos sendiri, saya inginmnya mereka sambil belajar menjual saya yakin bisa !!!!
Di lingkungan ciamis misalnya, hampir setiap keluarga mempunyai gabah di rumahnya, tapi belum tentu mempunyai uang cash berlebih, sebaiknya pihak sekolah memungut biaya mos dengan sumber daya yang mereka miliki, ajarilah mereka menghargai bahwa sulitnya mendapatkan uang, bawa gabah 10 kilo lebih membebani daripada membawa uang 50 ribu misalnya, tapi mengeluarkan gabah 10 kilo jauh lebih mudah daripada mengeluarkan uang 50 ribu untuk ukuran warga ciamis.
Atau bisa jadi mereka disuruh membawa kelapa 4 utir untuk iuran 20 ribu,  tentunya untuk siswa yang mempunyai pohon kelapa dan untuk yang tidak punya pohon kelapa, bisa membeli dari temannya, selanjutnya ditampung dan dijual ke pengepul, atau jangan jangan dari orang tua mereka ada yang jadi pengepul kelapa atau beras, saya yakin lebih menarik dan lebih memberikan pelajaran.
Ini hanya pengalaman dan harapan   saya, mungkin banyak yang lebih bagus dan lebih terarah lagi, untuk menjadikan kualitas pelajaran semakin hari semakin bagus





EmoticonEmoticon